• Contact Us
  • Beranda
  • Kategori
    • Desain Instruksional
      • Model
      • Strategi
      • Metode
      • Evaluasi
    • E-Learning
    • Media Pembelajaran
      • Visual
      • Audio
      • Multimedia
    • Kurikulum
    • Teknologi Pendidikan dalam Organisasi
    • Pengalaman
Teknologi Pendidikan Banget



Bayangkan Anda sedang membangun sebuah rumah. Dengan model desain tradisional, Anda akan membuat rencana yang sangat detail sebelum memulai pembangunan, termasuk ukuran setiap ruangan, jenis bahan yang akan digunakan, hingga warna cat yang akan dipilih. Namun, apa jadinya jika di tengah pembangunan, Anda menemukan bahwa desain awal tidak sesuai dengan kebutuhan atau ada material yang sulit didapatkan? Anda harus memulai kembali dari awal, bukan?

Model SAM menawarkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih membuat rencana yang sangat rinci di awal, model ini mengajak Anda untuk mulai membangun bagian-bagian kecil dari rumah tersebut. Misalnya, Anda bisa mulai dengan membangun kerangka dasar rumah terlebih dahulu. Setelah kerangka selesai, Anda bisa meminta pendapat orang lain tentang desainnya. Jika ada yang perlu diperbaiki, Anda bisa langsung melakukan perubahan tanpa harus merombak seluruh bangunan.

ADDIE Sudah Tidak Relevan?

Pertanyaan apakah model ADDIE sudah tidak relevan merupakan pertanyaan yang menarik, mengingat perkembangan pesat dalam dunia pembelajaran dan teknologi. Untuk menjawabnya, mari kita bandingkan secara mendalam antara model ADDIE yang telah lama digunakan dengan model SAM yang semakin populer.

Model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate) telah menjadi standar dalam desain instruksional selama bertahun-tahun. Model ini menawarkan pendekatan yang sangat terstruktur dan linier, di mana setiap tahap harus diselesaikan sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Keunggulan utama ADDIE adalah kerangka kerja yang jelas dan fokus pada perencanaan. Namun, ADDIE juga memiliki beberapa kelemahan; Kaku: Model ADDIE kurang fleksibel dalam menghadapi perubahan yang cepat, terutama dalam lingkungan pembelajaran yang dinamis, Waktu yang Lama: Proses pengembangan materi pembelajaran dengan ADDIE cenderung memakan waktu yang lebih lama karena setiap tahap harus diselesaikan secara berurutan, Kurang Fokus pada Pengguna: Model ini lebih berfokus pada proses pengembangan daripada kebutuhan pengguna akhir.

Kenalan dengan SAM, Si Lincah

SAM (Successive Approximation Model) adalah model desain instruksional yang dikembangkan oleh Michael Allen. Inti dari SAM adalah iterasi, yakni proses yang memungkinkan desain terus disempurnakan melalui pengujian dan revisi yang berulang. Intinya sangat mudah: membuat sesuatu, uji coba, revisi, ulangi. Proses ini terus dilakukan sampai hasilnya sesuai kebutuhan.

Proses SAM terdiri dari tiga langkah utama:

1. Preparation Phase

Misal, anda akan membuat  pelatihan Customer Service, maka dalam tahap ini anda akan;

Identifikasi Kebutuhan Pelatihan:

  • perusahaan diskusi awal dengan stakeholder, misal manager HR atau supervisor CS
  • Hasil: ditemukan bahwa karyawan membutuhkan pelatihan komunikasi
Savvy Start:
  • Brainstorming dengan tim Learning dan manager
  • Menetapkan tujuan pelatihan
Outputnya berupa:
  • Dokumen rencana projek yang mencakup target, ruang lingkup, gambawan awal modul

2. Iterative Design Phase

Prototyping

  • Tim membuat prototipe sederhana berupa video simulasi interaktif dan kuis
  • materi-materi yang akan disajikan seperti apa
Feedback Loop
  • prototipe diuji oleh tim kecilm misal 2 supervisor dan 5 karyawan
  • mendapat umpan balik apakah ada yang perlu ditambahkan, dikurangi, atau cukup
Revisi
  • revisi dan saran dari tim kecil
Outputnya berupa:
  • Prototipe yang disempurnakan

3. Iterative Development Phase

Pengembangan Produk Akhir

  • Tim Learning mengembangkan modul berupa video, kuis, materi, dll
Uji Coba
  • program diuji pada kelompok kecil terlebih dahulu, misal oleh 10 orang
  • mereka memberikan feedback untuk produk-produk tersebut
Implementasi
  • Modul dipublish di LMS
outputnya berupa
  • Program pelatihan yang siap digunakan

Apa yang Membuat SAM Istimewa?

dengan model SAM, anda terus-menerus memperbaiki dan menyempurnakan sampai benar-benar sempurna. Kita bisa membuat pelatihan yang lebih berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan peserta.

  • Fleksibilitas: Salah satu keunggulan utama SAM adalah fleksibilitasnya. Bayangkan Anda sedang membangun sebuah rumah. Dengan SAM, Anda bisa mengubah desain kamar mandi di tengah pembangunan tanpa harus merobohkan seluruh rumah. Ini sangat berbeda dengan metode tradisional yang cenderung kaku dan sulit diubah.
  • Fokus pada Pengguna: SAM menempatkan peserta didik di pusat perhatian. Setiap tahap pengembangan selalu melibatkan umpan balik dari peserta didik. Hal ini memastikan bahwa materi pembelajaran yang dihasilkan benar-benar relevan dan bermanfaat bagi mereka.
  • Peningkatan Kualitas secara Berkelanjutan: Proses iteratif dalam SAM memungkinkan desainer untuk terus memperbaiki dan menyempurnakan materi pembelajaran. Setiap siklus umpan balik dan revisi akan menghasilkan materi yang lebih baik dari sebelumnya.
  • Efisiensi: Dengan melakukan perbaikan secara bertahap, SAM dapat membantu mengidentifikasi dan memperbaiki masalah lebih awal. Hal ini tentu saja akan menghemat waktu dan biaya.
  • Kolaborasi: SAM mendorong kolaborasi antara berbagai pihak yang terlibat dalam proses pengembangan, seperti desainer, pengembang, dan peserta didik. Hal ini menciptakan sinergi yang positif dan menghasilkan solusi yang lebih komprehensif.
  • Jadi, Mana yang Lebih Baik, ADDIE atau SAM?

    Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pilihan model yang tepat akan bergantung pada beberapa faktor. Pilihan antara model ADDIE dan SAM sangat bergantung pada konteks proyek. Untuk proyek yang sederhana dan tidak terlalu dinamis, ADDIE mungkin masih relevan. Namun, untuk proyek yang kompleks dan membutuhkan fleksibilitas tinggi, SAM menjadi pilihan yang lebih baik. Jika waktu adalah kendala utama atau sumber daya terbatas, SAM memungkinkan pengembangan yang lebih cepat dan efisien dengan fokus pada bagian-bagian yang paling penting. Selain itu, jika kebutuhan pengguna terus berubah, SAM juga lebih adaptif karena memungkinkan desainer untuk terus melakukan penyesuaian.

    Kesimpulan

    Model ADDIE dan SAM bukanlah pesaing, melainkan pelengkap. Dalam beberapa situasi, kombinasi keduanya bahkan dapat menghasilkan hasil yang optimal. Penting untuk memilih model yang paling sesuai dengan konteks dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

    Tren saat ini menunjukkan bahwa model SAM semakin populer karena kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan pembelajaran yang dinamis dan terus berkembang. Namun, ini bukan berarti bahwa ADDIE sudah tidak relevan. Keduanya memiliki peran penting dalam dunia desain instruksional.



    Sesuai dengan kemendikbud, Profil Pelajar Pancasila memiliki enam dimensi sebagai berikut; 1) beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebhinekaan global, 3) gotong royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Keenam dimensi tersebut perlu diperhatikan secara utuh dalam satu kesatuan oleh pendidik agar dapat mengembangkannya secara menyeluruh, sehingga peserta didik dapat menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. Setiap dimensi ; 1) beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebhinekaan global, 3) gotong royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Keenam dimensi tersebut perlu diperhatikan secara utuh dalam satu kesatuan oleh pendidik agar dapat mengembangkannya secara menyeluruh, sehingga peserta didik dapat menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. Tersebut terdiri dari beberapa elemen dan sub elemen.

    Dimensi Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia

    Pada dimensi ini terdapat lima elemen kunci, yang meliputi akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak beragama. Berikut merupakan tabel alur perkembangan dari dimensi pertama.

    Tabel Alur Perkembangan Dimensi Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia di Kelas 4 (Fase B, 8-10 tahun)

    Subelemen

    Fase B (Kelas III-IV, usia 8-10 tahun)

    Akhlak Beragama

    Mengenal dan mencintai Tuhan Yang Maha Esa

    Memahami makna dari sifat-sifat utama Tuhan dan mampu menghubungkannya dengan ciptaan Tuhan dan konsep dirinya.

    Pemahaman Agama/Kepercayaan

    Mengetahui dan mendalami unsur utama dari sebuah kepercayaan dan agama.

    Pelaksanaan Ritual Ibadah

    Senantiasa melaksanakan kegaitan wajib beribadah dan mengikuti berbagai acara keagamaan yang sesuai dengan tuntutan kepercayaannya.

    Akhlak Pribadi

    Integritas

    Memiliki kesadaran mengenai pentingnya sikap berani untuk mengutarakan kebenaran dengan kejujuran dan membiasakannya dengan kegiatan refleksi pada diri.

    Merawat Diri, secara Fisik, Mental, dan Spiritual

    Mulai membiasakan diri untuk disiplin, rapi, membersihkan dan merawat tubuh, menjaga tingkah laku dan perkataan dalam semua aktivitas kesehariannya.

    Akhlak Kepada Manusia

    Mengutamakan persamaan dengan orang lain dan menghargai perbedaan

    Terbiasa memberi respons yang berhubungan dengan keadaan serupa dan berlainan yang diidentifikasi dari hal yang ada dalam diri dan temannya.

    Berempati kepada orang lain

    Terbiasa mengapresiasi suatu hal dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.

    Akhlak Kepada Alam

    Memahani Keterhubungan Ekosistem Bumi

    Mengetahui dan memahami bahwa ciptaan Tuhan memiliki hubungan timbal balik antara satu dengan lainnya.

    Menjaga Lingkungan Alam Sekitar

    Terbiasa berperilaku ramah dan memahami tindakan ramah dan buruk yang akan berdampak pada lingkungan

    Akhlak Bernegara

    Melaksanakan Hak dan Kewajiban sebagai Warga Negara Indonesia

    Mampu mengaitkan wujud beriman kepada Tuhan dengan mengidentifikasi dan memahami tanggungjawab dan hak orang di sekitarnya.


     Dimensi Kebhinekaan Global

    Pada dimensi ini terdapat empat elemen kunci, yang terdiri dari mengenal dan menghargai budaya, komunikasi dan interaksi antar budaya, refleksi dan tanggungjawab terhadap pengalaman kebhinekaan, dan keadilan sosial. Berikut adalah tabel alur perkembangan karakter dari dimensi kedua.

    Tabel Alur Perkembangan Dimensi Kebhinekaan Global di Kelas 4 (Fase B, 8-10 tahun)

    Subelemen

    Fase B (Kelas III-IV, usia 8-10 tahun)

    Mengenal dan Menghargai Budaya

    Mendalami budaya dan identitas budaya

    Dapat mengidentifikasi dan mendeskripsikan ide-ide tentang dirinya dan berbagai kelompok di lingkungan sekitarnya, serta cara orang lain berperilaku dan berkomunikasi dengannya.

    Mengeksplorasi dan membandingkan pengethuan budaya, kepercayaan, serta praktiknya.

    Dapat mengidentifikasi dan membandingkan praktik keseharian diri dan budayanya dengan orang lain di tempat dan waktu/era yang berbeda.

    Menumbuhkan rasa menghormati terhadap keanekaragaman budaya

    Memahami bahwa kemajemukan dapat memberikan kesempatan untuk memperolah pengalaman dan pemahaman yang baru.

    Komunikasi dan Interaksi Antar Budaya

    Berkomunikasi antar budaya

    Mendeskripsikan penggunaan kata, tulisan dan bahasa tubuh yang memiliki makna yang berbeda di lingkungan sekitarnya dan dalam suatu budaya tertentu.

    Mempertimbangkan dan menumbuhkan berbagai perspektif

    Mengekspresikan pandangannya terhadap topik yang umum dan dapat mengenal sudut pandang orang lain. m

    Refleksi dan Bertanggungjawab Terhadap Pengalaman Kebhinekaan

    Refleksi terhadap pengalaman kebhinekaan

    Dapat menyebutkan apa yang telah dipelajari tentang orang lain dari interaksinya dengan kemajemukan budaya di lingkungan sekitar.

    Menghilangkan stereotip dan prasangka

    Mengonfirmasi dan mengklarifikasi stereotip dan prasangka yang dimilikinya tentang orang atau kelompok di sekitarnya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

    Menyelaraskan perbedaan budaya

    Mengenali bahwa perbedaan budaya mempengaruhi pemahaman individu.

    Elemen Berkeadilan Sosial

    Aktif membanhgun masyarakat yang inklusif, adil, dan berkelanjutan

    Mengidentifikasi cara berkontribusi terhadap lingkungan sekolah, rumah, dan lingkungan sekitarnya yang iklusif, adil, dan berkelanjutan.

    Berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan bersama

    Berpartisipasi menentukan beberapa pilihan untuk keperluan bersama berdasarkan kriteria sedaerhana.

    Memahami peran individu dalam demokrasi

    Memahami konsep hak dan kewajiban, serta implikasinya terhadap perilakunya.



    Dimensi Gotong Royong

    Pada dimensi ini terdapat empat elemen kunci, yang terdiri dari  kolaborasi, kepedulian, berbagi. Berikut adalah tabel alur perkembangan karakter dari dimensi ketiga.

    Tabel  Alur Perkembangan Dimensi Gotong Royong di Kelas 4 (Fase B, 8-10 tahun)

    NO

    Elemen

    Subelemen

    1

    Kolaborasi

    Kerja sama

    Komunikasi untuk mencapai tujuan bersama

    Saling ketergantungan positif

    Koordinasi sosial

    2

    Kepedulian

    Tanggap terhadap lingkungan sosial

    Persepsi sosial

    3

    Berbagi

    Refleksi terhadap pengalaman kebhinekaan

    Menghilangkan stereotip dan prasangka

    Menyelaraskan perbedaan budaya


    Dimensi Mandiri

    Pada dimensi ini terdapat dua elemen kunci, yang terdiri dari pemahaman diri dari situasi yang dihadapi, dan regulasi diri. Berikut adalah tabel alur perkembangan karakter dari dimensi keempat.

    Tabel Alur Perkembangan Dimensi Mandiri di Kelas 4 (Fase B, 8-10 tahun)

    NO

    Elemen

    Subelemen

    1

    Pemahaman diri dan situasi yang dihadapi

    Mengenali kualitas dan minat diri serta tantangan yang dihadapi

    Mengembangkan refleksi diri

    2

    Regulasi diri

    Regulasi emosi

    Penetapan tujuan belajar, prestasi, dan pengembangan diri serta rencana strategis untuk mencapainya

    Menunjukan inisiatif dan bekerja secara mandiri

    Mengembangkan pengendalian dan disiplin diri

    Percaya diri, tangguh, dan adaptif


    Dimensi Bernalar Kritis

    Pada dimensi ini terdapat tiga elemen kunci, yang terdiri dari memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, dan refleksi pemikitan dan proses berpikir. Berikut adalah tabel alur perkembangan karakter dari dimensi kelima.

    Tabel Alur Perkembangan Dimensi Bernalar Kritis di Kelas 4 (Fase B, 8-10 tahun)

    NO

    Elemen

    Subelemen

    1

    Memperoleh dan memrposes informasi dan gagasan

    Mengajukan pertanyaan

    Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan mengolah informasi dan gagasan

    2

    Menganalisis dan mengevaluasi penalaran

    Menganalisis dan mengavluasi penalaran dan prosedurnya

    3

    Refleksi pemikiran dan proses berpikir

    Merefleksi dan mengavluasi pemikirannya sendiri


    Dimensi Kreatif

    Pada dimensi ini tidak terdapat elemen kunci, namun memiliki tiga poin subelemen yang terdiri dari menghasilkan gagasan orisinal, karya orisinal, dan keluwesan berpikir. Berikut adalah tabel alur perkembangan karakter dari dimensi keenam.

    Tabel Alur Perkembangan Dimensi Kreatif di Kelas 4 (Fase B, 8-10 tahun)

    NO

    Subelemen

    Fase B Kelas IV (8-10 tahun)

    1

    Menghasilkan gagasan yang orisinal

    Memunculkan gagasan baru yang bermakna dari beberapa gagasan berbeda.

    2

    Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal

    Mengeksplorasi dan mengekspresikan perasaannya sesuai minat dan kesukaannya dalam bentuk karya atau tindakan serta mengapresiasi karya dan tindakan yang dihasilkan.

    3

    Memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan

    Membandingkan gagasan kreatif untuk menghadapi situasi dan permasalahan.

     

     


    Projek Penguatan Pelajar Pancasila adalah... 

    Pembelajaran berbasis projek lintas disiplin yang difokuskan kepada problem solving. Projek didesain agar peserta didik dapat melakukan investigasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Oleh karena itu, prinsip dari P5 adalah; 1). Holistik, yang memandang sesuatu secara utuh dan saling berhubungan. 2) Kontekstual, yang berdasarkan pengalaman nyata agar peserta didik dapat dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. 3) Berpusat pada peserta didik, 4) Eksploratif.

    Bagaimana Tahapan Pelaksanaan Projek?

    Memulai dengan perancangan projek. 

    Ada hal yang harus dilakukan pada tahap awal ini, yaitu menentukan alokasi waktu dan dimensi, membentuk tim fasilitator, mengidentifikasi tingkat kesiapan satuan pendidikan, memilih tema dan topik, dan membuat Modul Ajar (MA).

    1. Alokasi Waktu dan Dimensi

    Pimpinan satuan pendidikan menentukan  waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan proyek dan dimensi per topik untuk mencerminkan sebaran pelaksanaan proyek di satuan pendidikan. Penentuan periode pelaksanaan untuk setiap topik proyek yang dipilih dapat disesuaikan dengan pembahasan topik tersebut. Durasi dapat dipilih dari 2 minggu hingga 3 bulan,  tergantung pada tujuan dan kedalaman topik penelitian. Jika sektor pendidikan bertujuan untuk memberikan dampak  pada lingkungan  di luar sektor pendidikan, periode pelaksanaan proyek mungkin lebih lama. Di luar masa pelaksanaan proyek, Dinas Pendidikan mendesain ulang rencana belajar mengajar seperti biasa. Merujuk kepada Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 162/M/2021 tentang Program Sekolah Penggerak, secara umum ketentuan total waktu projek adalah sekitar 20-30%. Beban peserta didik per tahun adalah sebagai berikut:



    2. Membentuk Tim Fasilitator

    Pimpinan satuan pendidikan akan menunjuk seorang pendidik untuk menjadi anggota tim fasilitator proyek. Tugasnya merencanakan proyek, membuat modul proyek, mengelola proyek dan mendampingi peserta didik dalam proyek untuk meningkatkan profil pelajar Pancasila .Tergantung pada tingkat kesiapan satuan pendidikan, jumlah dimensi yang dipilih dapat ditambah jika penanggung jawab satuan pendidikan mempunyai pengalaman dalam melaksanakan kegiatan berbasis proyek. Koordinatornya dapat berupa wakil kepala satuan pendidikan  atau pendidik yang berpengalaman dalam pengembangan dan pengelolaan proyek. Jika terdapat sumber daya manusia yang memadai, tunjuk seorang koordinator  dari setiap kelas.

    3. Identifikasi Tahapan Kesiapan Satuan Pendidikan

    Pimpinan satuan pendidikan dapat menilai tahap pelaksanaan P5 berdasarkan tingkat kesiapan satuan pendidikan sebagai berikut. 


    4. Pemilihan Tema dan Topik

    Tim fasilitator bersama pimpinan satuan pendidikan memilih minimal 2 tema (Fase A, B, C) dan minimal 3 tema (Fase D, E, F) dari 7 tema yang ditetapkan oleh Kemendikbud-Dikti untuk dijalankan dalam satu tahun ajaran berdasarkan isu yang relevan di lingkungan peserta didik. Tema yang belum dilakukan di tahun sebelumnya dan dapat mengulang siklus setelah semua tema sudah dipilih.Adapun daftar temanya adalah sebagai berikut; 

    • Gaya Hidup Berkelanjutan (SD-SMA/SMK). Memahami dampak dari aktivitas manusia, baik jangka pendek maupun panjang, terhadap kelangsungan kehidupan di dunia maupun lingkungan sekitarnya.
    • Kearifan lokal (SD-SMA/SMK). Membangun rasa ingin tahu dan kemampuan inkuiri melalui eksplorasi tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat sekitar atau daerah tersebut, serta perkembangannya
    • Bhinneka Tunggal Ika (SD-SMA/SMK). Mengenal belajar membangun dialog penuh hormat tentang keberagaman kelompok agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat sekitar dan di Indonesia serta nilai-nilai ajaran yang dianutnya.
    • Bangunlah Jiwa dan Raganya (SMP-SMA/SMK). Membangun kesadaran dan keterampilan untuk memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya.
    • Suara Demokrasi (SMP-SMA/SMK). Dalam “negara kecil” bernama satuan pendidikan, sistem demokrasi dan pemerintahan yang diterapkan di Indonesia dicoba untuk dipraktikkan, namun tidak terbatas pada proses pemilihan umum dan perumusan kebijakan.
    • Berekayasa dan Berteknologi untuk Membanguan NKRI (SD-SMA/SMK). Berkolaborasi dalam melatih daya pikir kritis, kreatif, inovatif, sekaligus kemampuan berempati untuk berekayasa membangun produk berteknologi yang memudahkan kegiatan dirinya dan juga sekitarnya.
    • Kewirausahaan (SD-SMA/SMK). Mengidentifikasi potensi ekonomi di tingkat lokal dan masalah yang ada dalam pengembangan potensi tersebut, serta kaitannya dengan aspek lingkungan, sosial, dan kesejahteraan masyarakat.
    • Dari tema besar, tim fasilitator projek (dapat juga bersama peserta didik) menentukan ruang lingkup isu yang spesifik sebagai projek.

    5. Merancang Modul Projek

    Tim fasilitator bekerja sama dalam merancang modul projek dan berdiskusi dalam menentukan elemen dan subelemen profil, alur kegiatan projek, serta tipe asesmen yang sesuai dengan tujuan dan kegiatan projek. Apabila sudah memilih tema, maka tentukan dimensi Profil Pelajar Pancasila, bersamaan dengan elemen dan sub elemen. Kemudian membuat asesmen dalam projek. Terdapat banyak kendala dalam penyusunan asesmen ini. Baiknya kita pelajari terlebih dahulu alur dari asesmen, dengan posisi kita sudah memahami kesinambungan alur perkembangan dimensi untuk setiap sub-elemen Profil Pelajar Pancasila. Pertama, tentukan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan alur perkembangan dimensi). Misal dalam fase D yang tercantum, “Menjelaskan perubahan budaya seiring waktu dan sesuai konteks, baik dalam skala lokal, regional, dan nasional. Menjelaskan identitas diri yang terbentuk dari budaya bangsa.” bisa kita integrasikan ke dalam Sub-elemen: Mendalami budaya dan identitas budaya dari Elemen: Mengenal dan menghargai budaya. Elemen tersebut ada pada Dimensi Berkebinekaan Global. Kedua, rancang indikator yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Misal dalam dimensi Berkbhinekaan global, salah satu indikatornya adalah "Mampu merefleksikan identitas diri yang terbentuk dari keragaman budaya di nusantara”. Ketiga, susun strategi asesmen, dengan cara apa peserta didik dapat menunjukkan kemampuan dan perilaku yang sesuai dan dengan cara apa pendidik bisa mengukur kemampuan peserta didik tersebut. Pilihannya adalah; soal tertulis, kuis, jurnal, lembar observasi, rubrik, portofolio kinerja. Keempat, Olah hasil asesmen dan bukti pencapaian peserta didik dari asesmen tersebut. Hasil asesmen bisa didapatkan dari skor tes, isian lembar ceklis/observasi, identifikasi rubrik (contoh rubrik. Bukti pencapaian dapat berupa produk belajar seperti catatan, lembar jawaban, hasil karya, foto/rekaman saat melakukan pekerjaan, dan sebagainya. Kelima, susun rapor projek. Tentukan pencapaian peserta didik dan deskripsikan catatan prosesnya dalam satu paragraf.

    Setelah melakukan perancangan, maka berikutnya projek mulai dikelola. Lantas, bagaimana caranya supaya projek berjalan lancar?

    Proses pembelajaran terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan penutup, dan keterlibatan mitra (bila ada). Dalam mengawali kegiatan projek, pendidik dapat memulai dengan mengajak peserta didik terlibat dengan cara menginstruksikan mereka untuk melihat situasi nyata dalam keseharian yang dapat memancing perhatian sejak pertama kali projek dilangsungkan. Strateginya adalah, mulai dengan memberi mereka pertanyaan pemantik. Pertanyaan pemantik adalah pertanyaan yang memancing rasa keingintahuan peserta didik, yang nantinya bisa mendorong mereka untuk bereksplorasi. Ketika memasuki kegiatan inti maka pelaksanaan projek harus dioprimalkan. Pada kegiatan ini, strategi yang bisa digunakan sebagai fasilitator adalah mendorong keterlibatan belajar peserta didik dalam proses pembelajaran. Bagaimana pun caranya, jadikan pembelajaran menjadi student-centered. Fasilitator jua dapat menyediakan ruang dan kesempatan bagi mereka untuk berkembang. Apabila sudah selesai, maka pendidik mengakhiri projek dengan merancang perayaan belajar dan melakukan refleksi tindak lanjut. Perayaan belajar adalah kegiatan di mana peserta didik dapat mempresentasikan produk atau hasil belajarnya di depan khalayak baik dari pihak orang tua maupun pihak lain. Di sini pendidik menjadi mentor untuk mendampingi keberlangsungan acara agar proses berjalan dengan penuh apresiasi dan menghargai. Sedangkan refleksi tindak lanjut tidak hanya di akhir kegiatan saja melainkan di tengah pelaksanaan juga. Namun dalam hal ini, yang dimaksud refleksinya dilakukan secara tertulis ataupun verbal.

    Selanjutnya, melaporkan hasil projek, dengan jurnal pendidik, portofolio peserta didik, dan rapor. 

    Dengan adanya jurnal, maka pendidik dapat menunjukan perkembangan peserta didik yang bisa menjadi alat refleksi secara berkala. Kemudian portofolio peserta didik tentu dapat mendorong peserta didik untuk mengenali potensi dan kekuatannya dari hasil-hasil yang sudah dilakukan. Terakhir, rapor projek. Rapor terdiri dari hasil penilaian terhadap performa peserta didik. Penilaian dari rapor projek memadukan antara pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebagai satu komponen. Deskripsi juga disampaikan menyelruh tanpa membedakan aspek-aspek tersbut. 

    Setelah semua dilakukan, tiba saatnya untuk mengevaluasi implementasi projek. 

    Hal yang harus diperhatikan dalam evaluasi ini adalah bahwa evaluasi bersifat menyeluruh dan bukan hanya terhadap pembelajaran peserta didik saja melainkan terhadap proses pendidik dan satuan pendidikan juga. Evaluasi implementasi projek fokus kepada proses dan bukan hasil akhir. jadi tolok ukurnya adalah perkembangan danpertumbuhan diri peserta didik, pendidik, dan satuan pendidikan. Libatkan peserta didik dalam evaluasi agar evaluasi lebih menyeluruh.

     

    Postingan Lama Beranda

    POPULAR POSTS

    • Beberapa Soal dan Jawabannya Terkait Pengembangan Kurikulum
        freepik.com Bagaimana Wujud D imensi K urikulum S ebagai I de, R encana, P roses, dan H asil ? Dimensi kurikulum sebagai ide menyatakan ...
    • Model Pembelajaran Investigasi Kelompok; Definisi, Konsep, Sintaks
        freepik.com Pembelajaran yang bermakna yaitu pembelajaran yang bisa memberikan pengetahuan dan perubahan perilaku secara langsung dalam...
    • Gagal SBMPTN Part I
      freepik.com Pada tahun 2019 di kala aku masih menduduki kelas 3 SMA, aku mengikuti sebuah bimbel bernama Shine. Perjuanganku saat itu benar-...
    • Manajemen Siaran Radio
      Apa kau tahu? Pada awalnya radio digunakan untuk menyampaikan informasi dan berita oleh militer serta pemerintah. Di satu waktu, radio ...

    Categories

    • Audio 2
    • Desaininstruksional 1
    • Elearning 4
    • Kurikulum 10
    • Media 9
    • Model Pembelajaran 3
    • Multimedia 3
    • Pengalaman 2
    • Strategi 2
    • Visual 4

    Advertisement

    Berlangganan

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Diberdayakan oleh Blogger.

      Laporkan Penyalahgunaan

      About Me

      Foto Saya
      Dananir Hasna Azzahra
      Lihat profil lengkapku

      Instagram

      Stay Connected

      -->

      Copyright © Camille Theme. Designed by OddThemes