Bayangkan Anda sedang membangun sebuah rumah. Dengan model desain tradisional, Anda akan membuat rencana yang sangat detail sebelum memulai pembangunan, termasuk ukuran setiap ruangan, jenis bahan yang akan digunakan, hingga warna cat yang akan dipilih. Namun, apa jadinya jika di tengah pembangunan, Anda menemukan bahwa desain awal tidak sesuai dengan kebutuhan atau ada material yang sulit didapatkan? Anda harus memulai kembali dari awal, bukan?
Model SAM menawarkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih membuat rencana yang sangat rinci di awal, model ini mengajak Anda untuk mulai membangun bagian-bagian kecil dari rumah tersebut. Misalnya, Anda bisa mulai dengan membangun kerangka dasar rumah terlebih dahulu. Setelah kerangka selesai, Anda bisa meminta pendapat orang lain tentang desainnya. Jika ada yang perlu diperbaiki, Anda bisa langsung melakukan perubahan tanpa harus merombak seluruh bangunan.
ADDIE Sudah Tidak Relevan?
Pertanyaan apakah model ADDIE sudah tidak relevan merupakan pertanyaan yang menarik, mengingat perkembangan pesat dalam dunia pembelajaran dan teknologi. Untuk menjawabnya, mari kita bandingkan secara mendalam antara model ADDIE yang telah lama digunakan dengan model SAM yang semakin populer.
Model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate) telah menjadi standar dalam desain instruksional selama bertahun-tahun. Model ini menawarkan pendekatan yang sangat terstruktur dan linier, di mana setiap tahap harus diselesaikan sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Keunggulan utama ADDIE adalah kerangka kerja yang jelas dan fokus pada perencanaan. Namun, ADDIE juga memiliki beberapa kelemahan; Kaku: Model ADDIE kurang fleksibel dalam menghadapi perubahan yang cepat, terutama dalam lingkungan pembelajaran yang dinamis, Waktu yang Lama: Proses pengembangan materi pembelajaran dengan ADDIE cenderung memakan waktu yang lebih lama karena setiap tahap harus diselesaikan secara berurutan, Kurang Fokus pada Pengguna: Model ini lebih berfokus pada proses pengembangan daripada kebutuhan pengguna akhir.
Kenalan dengan SAM, Si Lincah
SAM (Successive Approximation Model) adalah model desain instruksional yang dikembangkan oleh Michael Allen. Inti dari SAM adalah iterasi, yakni proses yang memungkinkan desain terus disempurnakan melalui pengujian dan revisi yang berulang. Intinya sangat mudah: membuat sesuatu, uji coba, revisi, ulangi. Proses ini terus dilakukan sampai hasilnya sesuai kebutuhan.
Proses SAM terdiri dari tiga langkah utama:
1. Preparation Phase
Misal, anda akan membuat pelatihan Customer Service, maka dalam tahap ini anda akan;
Identifikasi Kebutuhan Pelatihan:
- perusahaan diskusi awal dengan stakeholder, misal manager HR atau supervisor CS
- Hasil: ditemukan bahwa karyawan membutuhkan pelatihan komunikasi
- Brainstorming dengan tim Learning dan manager
- Menetapkan tujuan pelatihan
- Dokumen rencana projek yang mencakup target, ruang lingkup, gambawan awal modul
2. Iterative Design Phase
Prototyping
- Tim membuat prototipe sederhana berupa video simulasi interaktif dan kuis
- materi-materi yang akan disajikan seperti apa
- prototipe diuji oleh tim kecilm misal 2 supervisor dan 5 karyawan
- mendapat umpan balik apakah ada yang perlu ditambahkan, dikurangi, atau cukup
- revisi dan saran dari tim kecil
- Prototipe yang disempurnakan
3. Iterative Development Phase
Pengembangan Produk Akhir
- Tim Learning mengembangkan modul berupa video, kuis, materi, dll
- program diuji pada kelompok kecil terlebih dahulu, misal oleh 10 orang
- mereka memberikan feedback untuk produk-produk tersebut
- Modul dipublish di LMS
- Program pelatihan yang siap digunakan
Apa yang Membuat SAM Istimewa?
dengan model SAM, anda terus-menerus memperbaiki dan menyempurnakan sampai benar-benar sempurna. Kita bisa membuat pelatihan yang lebih berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan peserta.
Jadi, Mana yang Lebih Baik, ADDIE atau SAM?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pilihan model yang tepat akan bergantung pada beberapa faktor. Pilihan antara model ADDIE dan SAM sangat bergantung pada konteks proyek. Untuk proyek yang sederhana dan tidak terlalu dinamis, ADDIE mungkin masih relevan. Namun, untuk proyek yang kompleks dan membutuhkan fleksibilitas tinggi, SAM menjadi pilihan yang lebih baik. Jika waktu adalah kendala utama atau sumber daya terbatas, SAM memungkinkan pengembangan yang lebih cepat dan efisien dengan fokus pada bagian-bagian yang paling penting. Selain itu, jika kebutuhan pengguna terus berubah, SAM juga lebih adaptif karena memungkinkan desainer untuk terus melakukan penyesuaian.
Kesimpulan
Model ADDIE dan SAM bukanlah pesaing, melainkan pelengkap. Dalam beberapa situasi, kombinasi keduanya bahkan dapat menghasilkan hasil yang optimal. Penting untuk memilih model yang paling sesuai dengan konteks dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Tren saat ini menunjukkan bahwa model SAM semakin populer karena kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan pembelajaran yang dinamis dan terus berkembang. Namun, ini bukan berarti bahwa ADDIE sudah tidak relevan. Keduanya memiliki peran penting dalam dunia desain instruksional.

